[Bangkok 6.3] YANG SATU KELELAHAN, SATUNYA SUDAH TIDAK TAHAN
Aku cukup menikmati sekali menu sarapan pagi hari ini, memang untuk citra rasa mungkin tidak se-khas Indonesia tetapi setidaknya lidahku masih bisa menerima. Berbeda dengan saos KFC di Kuala Lumpur yang beberapa hari lalu aku coba, tidak bisa mengatakan enak tidak enak karena masih banyak juga yang suka cuma memang kurang cocok di lidah. Setelah selesai makan kemudian duduk-duduk sebentar, kini aku dan Mas Hendra siap melakukan perjalanan. Sebelum beranjak pergi meninggalkan tempat ini, kupon yang tersisa terlebih dahulu kami tukarkan kembali. Tidak cukup banyak memang jumlahnya, masing-masing hanya 25 bath. Lumayanlah, kayaknya masih bisa kami pakai untuk naik kereta. Selesai dengan urusan asupan dan penukaran, kami keluar dari pujasera untuk kemudian berjalan ke lantai paling bawah (Basement). Yang akan dituju sekarang ini adalah tempat naiknya kereta yang dapat membawa kami menuju ke kota, Airport Rail Link namanya. Setelah sampai bawah dan begitu mau melakukan pembelian tiket melalui mesin, kami berdua cukup kaget karena ternyata tulisannya menggunakan bahasa thailand. Meski cukup ramai suasana di Magic Food Point tadi, berbeda dengan di sini. Antara kami yang kurang beruntung atau penggunjung Bandara Suvarnabhumi yang memang jarang sekali menggunakan transportasi ini, hingga aku sempat tidak tahu harus bagaimana sedang orang yang bisa kami tanyai saja tidak ada.
Sungguh tak disangka, di tengah-tengah rasa kebingungan di antara kami berdua pertolongan justru datang dari seorang Ibu yang berusia sudah agak tua yang mana beliau merupakan petugas kebersihan bandara. Ekspresi atau gerak-gerik kami yang sepertinya terbaca olehnya, membuat Ibu tersebut kemudian meminta kami berjalan mengikutinya yang ternyata menuju mesin pembelian tiket tadi yang mana posisinya tidak begitu jauh dari posisi kami berdiri. Dengan tanpa mengatakan apa-apa, kami seolah dibuat untuk memperhatikan apa yang tengah dilakukannya. Diubahnya tulisan pada mesin tersebut dari yang semula menggunakan bahasa thailand menjadi bahasa inggris. Cukup mudah sebetulnya cara untuk penggantian bahasanya, aku saja tadi yang tampaknya terlalu terburu-buru hingga tak sampai teliti memperhatikan satu-persatu. Tetapi aku cukup berterima kasih dengan adanya pertolongan yang dilewatkan melalui Ibu ini, karena aku jadi bisa merasa bahwa masih ada orang-orang baik di setiap penjuru bumi yang mana mereka membantu tanpa perlu tahu siapa dan background dari yang dibantu termasuk dalam hal ini adalah aku dan temanku. Dan yang paling utama adalah aku jadi tak bisa lagi menganggap remeh siapa saja dengan status, pekerjaan, dan aktifitas yang dilakukannya, tak ada yang tahu siapa yang tiba-tiba bersedia mengulurkan tangannya disaat kesulitan datang menimpa. Perjalanan sedikit banyak telah memberikanku pelajaran tentang kehidupan, aku dari yang pada mulanya hanya sekedar tahu dari orang-orang yang membagikan cerita pengalaman kemudian betul-betul dapat langsung merasakan. Dan karena sering kali ketika terlalu berharap justru tak mendapatkan atau mengalami, maka aku tak pernah terlalu berambisi dalam mencari. Maka harapan mengenai pelajaran atau hal baik yang terjadi cukup aku niatkan di dalam hati sembari mempersiapkan kepekaan diri sehingga fungsi perjalanan yang sebagaimana merupakan pilihan liburan, hiburan, dan merefresh pikiran tak begitu saja terkesampingkan.
Transaksi pembelian tiket sudah bisa dilakukan, sebelum si Ibu pergi tak lupa kami ucapkan terima kasih. Aku kemudian melanjutkan proses pembelian. Dengan rute tujuan Stasiun Ratchaprarop yang aku pilih ini, kami tak langsung mengeksplorasi tempat-tempat wisata di ibukota Thailand karena menuju hotel terlebih dahulu untuk menitipkan sebagian barang bawaan. Harga untuk 1 tiketnya adalah 44 Bath. Kini tiket sudah berada di tangan, aku dan Mas Hendra kemudian berjalan masuk menuju area tunggu. Sayangnya tak sedikitpun aku ingat mengenai penggambaran area dan suasananya, karena mungkin kereta datang atau malah sudah standby pada posisi kami yang belum lama atau sampai yang menunggu sehingga tak sampai terekam dalam ingatanku. Ketika sudah berada di dalam kereta dan setelah menengok kanan kiri, aku membatin dalam hati "Ternyata banyak juga yang menaiki, hehe." Dikarenakan jalur atau rel pada kereta ini berada di atas bukan di bawah tanah membuatku dalam perjalanan dapat menikmati pemandangan bangunan-bangunan dan sebagian tatanan kota dari balik kaca. Ini nampaknya seperti menjadi obat lelahku setelah kurangnya istirahat malam tadi, yang kemudian dalam hati malah muncul rasa sudah tidak sabar lagi untuk bisa segera mengeksplorasi. Sayangnya aku masih harus menahan karena stasiun yang dilewati baru 3 sedang Stasiun Ratchaprarop berada pada urutan ke-7, atau tujuan ke-6 jika tidak dihitung stasiun pertama tempat kami naik.
Tidak ada alasan spesifik mengenai keterkaitan antara stasiun tujuan dengan hotel di Bangkok yang kami pilih, hanya ketidaksengajaan akibat memilih hotel yang aksesnya mudah ditambah dengan harganya yang agak murah untuk lokasi dan fasilitasnya yang terbilang cukup utamanya menurut Mas Hendra. Jadi begitu mendapatkan referensi beberapa hotel dengan akses dan harganya yang masuk dalam kriteria, aku lemparkan semua pada Mas Hendra untuk kemudian bisa dipilih satu yang mana. Dan akhirnya terpilihlah Cozy Villa Hotel. Setelah baru saja melewati Stasiun makkasan yang merupakan Stasiun tujuan ke-5, beberapa saat lagi kereta akan sampai pada stasiun tujuan kami. Karena begitu turun nanti masih perlu melanjutkan dengan berjalan kaki, aku meminta Mas Hendra untuk mulai mempersiapkan pengaturan GPS-nya karena meski hotel dengan stasiun lumayan dekat jaraknya tetapi belum tahu jalannya ke arah mana. Dengan sudah dipersiapkan pengaturan GPS-nya, begitu turun karena kereta telah berhenti di Stasiun Ratchaprarop sekarang ini kami jadi tidak perlu berlama-lama lagi. Posisi stasiunnya yang berada di atas tepatnya lantai 3 sepertinya, untuk keluar membuat kami perlu berjalan dulu ke bawah. Aku kurang mengerti apakah memang konsepnya begini atau proses pembangunannya yang belum sampai jadi, bangunan pada Stasiun Ratchaprarop ini hanya berwujudkan sebuah coran baik pada tembok ataupun lantainya. Sebetulnya tak ada masalah, karena aku baru pertama kali menginjakkan kaki di tempat ini saja yang kemudian melihatnya sebagai pemandangan yang berbeda.
Begitu sudah berada di bawah, tampak di seberang sana para pengojek motor yang sepertinya sedang menunggu calon penumpang. Dengan adanya beberapa cerita mengenai Scam (Penipuan atau kejahatan) di Bangkok yang diantaranya dilakukan oleh supir begitu itu, aku mulai sedikit berjaga-jaga meski posisinya agak jauh. Mulai timbul rasa khawatir juga, terbayang dalam pikiran bagaimana seandainya kami tiba-tiba dihampiri karena tampaknya sedang kebingungan mencari sebuah lokasi. Akibat tidak menggali lebih dulu sebelummya mengenai kawasan atau lingkungan tempat hotel kami menginap seperti apa, GPS yang justru mengarahkan kami melewati semacam perkampungan warga dan bukannya jalan raya menjadikanku agak kurang percaya. Dengan tanpa beban dan merasa ada keganjelan, Mas Hendra tetap berjalan sesuai dengan arahan. Aku yang sudah tidak ada lagi pilihan tentu kemudian berjalan mengikutinya dengan masih sedikit was-was. Ketidakpercayaanku kepada GPS akhirnya patah setelah melihat sebuah bangunan di ujung perkampungan pada sisi sebelah kiri yang mana di atas pintunya terdapat tulisan Cozy Villa, sungguh benar-benar tidak terduga posisi keberadaannya.
Supaya dapat segera betul-betul memulai perjalanan, kami langsung berjalan masuk ke dalam menuju Resepsionis untuk menitipkan sebagian barang bawaan. Dan bukannya kemudian barangnya mereka terima, kami justru diberikan sebuah kunci kamar dan juga kupon Breakfast atau sarapan yang bisa digunakan pada keesokan hari. Tentu ini mengartikan bahwa kami terdata sebagai tamu yang sudah Check-in, sayangnya aku lupa menanyakan mengenai alasan kami yang sudah bisa mendapatkan kamar di waktu yang masih terbilang pagi. Tetapi sepertinya kemungkinannya ada 2, antara sudah tersedianya kamar yang bisa ditempati dan atau memang tidak adanya aturan mengenai waktu pasti sehingga tidak ada masalah untuk Check-in lebih dini. Setelah diberitahu bahwa kamar kami bukan berada di sini melainkan di depan, aku jadi baru mengetahui bahwa Cozy Villa Hotel ini memiliki 2 bangunan. Jika lantai paling bawah yang ada di sini digunakan sebagai lobi, lantai bawah yang ada pada bangunan di depan dijadikan tempat untuk sarapan. Lagi-lagi ini menjadi keberuntungan khususnya aku untuk perkara sarapan pada keesokan hari, karena kami jadi tidak perlu berjalan jauh dengan berpindah bangunan lebih dulu. Dengan tidak adanya ekspektasi berlebih mengenai kamar di hotel ini, begitu sudah berada di dalam kemudian mengetahui bahwa sebagian besar perabotannya merupakan seri atau berumur sudah agak lama kami tetap bisa menerima. Hanya saja yang sedikit membuatku secara pribadi agak kecewa adalah beberapa fasilitas yang tidak berfungsi sebagaimana layaknya. Di antaranya ada AC yang perlu menunggu agak lama untuk keluar dinginnya yang itupun tidak begitu terasa juga, kemudian Shower yang tidak bisa kencang keluar airnya. Selebihnya tidak ada apa-apa.
Karena benar-benar sudah tidak tahan untuk segera menikmati keindahan Bangkok untuk yang pertama, dari begitu masuk ke dalam kamar aku mencoba mengingatkan Mas Hendra untuk tidak terlalu berlama-lama bersantai di atas kasur karena rasa nyamannya yang dapat membuat siapapun bisa tergiur. Apalagi jika alas kaki sudah dilepas dan kaki mulai dinaikkan ke atas seperti yang sedang dilakukan Mas Hendra, pernyataan "Iya, sebentar mar." rasanya tak bisa aku telan mentah-mentah. Dan benar, setelah beberapa menit sebelummya masih tengah melakukan aktifitas dengan HPnya yang entah sedang berbalas pesan dengan sang pujaan hati dan atau teman-temannya atau sekedar berselancar di sosial media. Dengan posisi yang masih sama telentangnya, kini Mas Hendra terlihat sudah pada posisi tidur yang cukup lelap hingga terdengar dengkuran kecil yang keluar dari mulutnya. Tidak mencoba untuk membangunkan meski dalam kondisi yang sudah tidak tahan, aku berusaha untuk menahan diri dengan mewajari betapa melelahkannya perjalanan terakhir kami. Yang kemudian bisa aku lakukan hanyalah mencatat poin-poin penting pada HP mengenai apa yang sudah kami alami dari mulai hari terakhir di Kuala Lumpur hingga berada di sini sembari mengatur apa yang akan dilakukan nanti karena agenda yang jelas sudah tak sesuai dengan Itinerary. Dan karena aku masih belum bisa ke mana-mana pada saat ini, ceritanya akan dilanjutkan lagi nanti.
Bersambung ...
*Di bawah ini adalah dokumentasi perjalanannya
![]() |
Pergi ke tempat jual perabotan rumah tangga terus bilang sama salesnya "Mas/ Mbak, saya beli kasur yang gede tapi dipotong jadi 2 kayak gini ya biar gak kebesaran." - Cozy Villa Hotel |
![]() |
Bukannya gak mau pakai interior yang mewah, memang konsep hotelnya aja kayaknya betul-betul mengusung "Feel like home". - Cozy Villa Hotel |
.
Instagram: @umarilahjalan
#umarilahjalan ~
Komentar
Posting Komentar